SEMINAR NASIONAL UKF EXPO 2010
Sebagai salah satu komponen dalam sebuah ekosistem, satwaliar memiliki peran yang sangat vital. Satwaliar menempati tingkatan-tingkatan tropik dalam ekosistem yang pada umumnya bertindak sebagai konsumer. (S.J. McNaughton dan Larry L. Wolf, 1979). Di dalam hutan sebagai contoh, perilaku konsumsi tersebut disisi lain membentuk interaksi yang bersifat mutualis (saling menguntungkan) khususnya bagi vegetasi (produser). Satwaliar-satwaliar besar seperti mamalia, primata maupun aves memainkan peran penting dalam membentuk kestabilan dan regenerasi ekosistem. Satwa-satwa tersebut membantu menyebarkan benih-benih penyusun tegakan hutan. Sebagai contoh peran orangutan (Pongo spp.) dan kasuari gelambir-tunggal (Casuarius unappendiculatus) dalam menyebarkan biji beberapa spesies pohon tertentu.
Dewasa ini peran satwaliar pada ekosistem hutan mulai terusik, Salah satu faktor terganggunya kestabilan ekosistem hutan adalah perburuan dan perdagangan satwaliar. Selain masalah ekosistem, perburuan dan perdagangan satwaliar secara illegal sampai saat ini masih menjadi poblematika semua pihak. Pemerintah setiap tahunnya menanggung kerugian senilai 9 triliun rupiah akibat perdagangan satwaliar illegal (PHKA 2009). Nilai ini belum termasuk harga yang harus dibayar akibat rusaknya sistem penyangga kehidupan seperti, kerusakan habitat yang berakibat munculnya, bencana alam dan penurunan nilai estetika. Didasari kebutuhan manusia yang selalu meningkat, sumberdaya alam telah menjadi komoditas yang menjanjikan untuk dikonsumsi. Namun diperlukan perhitungan yang matang mengenai seberapa besar sumberdaya alam yang dapat digunakan agar tetap lestari. Peninjauan tidak hanya dari segi ekologi. Nilai intrinsik lainnya yang tidak kalah penting adalah nilai ekonomi akibat hilangnya suatu spesies dalam rantai ekosistem atau rusaknya habitat. Kompleksitas masalah yang muncul bukan berarti tidak dapat diatasi.
Sebuah terobosan kebijakan dari pihak-pihak yang terkait sangat mungkin dapat menjadi solusi. Namun diperlukan pula mekanisme yang komprehensif untuk menunjang pemanfaatan yang bijak. Untuk itu pengatur mekanisme tersebut menjadi penting perannya, disamping proses pelaksanaan yang transparan dan pengawasan dari pihak independen.
Pelaksanaan kegiatan Seminar Nasional UKF EXPO 2010 adalah, sebagai berikut:
Hari/Tanggal : Sabtu, 23 Oktober 2010
Tempat : Auditorium Thoyib Hadiwijaya Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga-Bogor
Judul : Valuasi perdagangan satwaliar serta dampak yang ditimbulkan terhadap sistem penyangga kehidupan.
Sasaran : Mahasiswa, penggiat alam dan masyarakat umum.
Moderator : Koen Setiawan, penulis dan aktivis jaringan Pendidikan Lingkungan
Batasan Materi :
• Pembicara 1 (Dr. Ibnu Maryanto, Peneliti hayati LIPI)
Pemaparan mengenai peran satwaliar terhadap ekosistem. Pemaparan proses pemulihan ekosistem akibat perburuan dan perdagangan satwaliar serta besarnya sumberdaya yang diperlukan.
• Pembicara 2 (Harry Santoso, Direktur KKH Dirjen PHKA)
Pemaparan mengenai dasar-dasar pemanfaatan sumberdaya alam khususnya satwaliar pemapaan mengenai manajemen sumberdaya hayati (mangement authority).
• Pembicara 3 (Ibu Siti Nuramaliati Pridjono, Kepala Puslit Biologi LIPI)
Pemaparan proses penghimpunan data yang mendasari perekomendasian status satwa di alam. Pemaparan dasar-dasar penentuan kuota satwaliar yang diizinkan untuk diperdagangkan (scientific authority).
• Pembicara 4 (Dwi Adhiasto Nugroho, LSM WCS)
Usaha LSM/NGO dalam membantu pemerintah untuk mengawasi perdagangan satwaliar. Pemaparan hasil investigasi praktik perdagangan satwaliar.
Alokasi Waktu :
Pembicara 1 dipersilakan untuk menyampaikan materinya selama 20 menit (maksimal), sementara pembicara lainnya selama 15 menit (maksimal). Kemudian diadakan diskusi aktif yang dipandu oleh moderator.
Pemesanan tiket :
• Ticket box: Koridor LSI & Node TPB (s.d. 22 Okt),UKF Centre
• Koridor Pinus Faperta (11-15 Okt)
• via sms (085692573936)
• Online (www.ukfexpo.blogspot.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar